Alam Takambang Jadi Guru



Alam takambang jadi guru-Pepatah memang terus melekat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat di berbagai belahan dunia, begitupun di negeriku tercinta, Indonesia.  Banyak pepatah dari  berbagai daerah-daerahnya menjadikan negeriku ini kaya akan kata-kata namun haus akan kinerja yang nyata. Apalah arti pepatah jika tak memiliki makna dan maksud yang dituju.
Di daerah atap bertanduk atau yang biasa di kenal dengan gonjong ini, dapat dilihat berbagai macam dan ragam pepatah orang-orang yag hidup dahulu. Kisah yang terjadi dalam lingkungan nagari dan sebagainya menjadi perihal yang amat menentukan pepatah itu muncul dan digunakan. salah satunya alam takambang jadi guru.

Di suatu zaman yang serba canggih inilah, kisah ini di angkat kepermukaan.
Alkisah di sebuah kamar kos yang kecil, berukuran 4x4 meter itu. Tinggallah seseorang sabab ( anak muda ) yang tahun lalu baru menyelesaikan study di sebuah perguruan tinggi di kota padang. Orang-orang kebanyakan menyebutnya Islamic Institute of Padang. Tahun pun berlalu namun kerjaan belum jua datang dan ditemukannya, doa tetap dia haturkan pada sang pemilik waktu, berharap suatu saat nanti doanya dikabulkan sembari berusaha mencari dan mencari. Sembari itu pekerjaan membuat artikel terus ia geluti agar tercapai jua cita-cita mulianya.
Dikamar itu juga tinggal bersamanya sepasang ekor kucing hitam putih, yang satu telah lama bersama seiring sejalan. Sedangkan yang satu lagi barulah seminggu ini ia ambil dari jalanan, berharap akan jadi kucing yang jinak dan menyenangkan hatinya sebagai ganti teman yang telah pergi meninggalkannya beberapa tahun yang lalu. Teman yang setia namun menikam dari belakang menyebabkan runtuhnya ikatan persahabatan yang telah dibina sejak kecil. Walaupun berbeda kampung halaman namun bersatu dalam ikatan ukhwah dalam sebuah pondok pesantren Thawalib Putera Kota Padang Panjang. Sampailah pada suatu ketika ikatan itu hancur disebabkan ketidak istiqomahan dalam memilih seseorang yang sejogjanya akan mendampingi hidup dalam masa akan datang.
Dia berujar pada temannya itu agar berhati dalam dengan gadis yang ia pilih itu, namun nasehat tinggal nasehat. Ego memang merajai ketika seorang insan diamuk badai cinta. Jangankan nasehat sahabat, Tuhan pun akan ia jegal untuk tetap bersamanya.  
Kembali pada anak muda ini semasa menyusun skripsi,
Bulan puasa tahun 2016 silam yang bergelimang pahala dan hikmah itu ia berangkat bersama sesorang gadis bernama leni..teman sekampus, selokal bahkan satu tempat penelitian terhadap skripsi yang sedang ia susun. Bersambung...

Comments

Popular posts from this blog

Toksoplasma

Hitam

Pulang