Posts

Showing posts from August, 2018

Note in Campus #4

Chapter 4: Kongklusi Setiap rangkaian kata tentu membutuhkan titik sebagai penutup. Begitupula dengan chapter ini juga membutuhkan kesimpulan atau kata penutup. Tidak akan berjaya kalau terus berdiam diri, bangkit dan temukan kemenangan. Kata pujangga terdahulu: Sesungguhnya apa yang kita kehilangan dalam api akan kita temukan dalam abu.

Note in Campus #3

Chapter 3: Soal Apakah perbedaan antara pertanyaan dengan jawaban? Ah suatu yang pendek untuk di jawab akan tetapi terlalu riskan jika dibiarkan Kira-kira seperti inilah argumennya: Pertanyaan: suatu hal yang harus engkau jawab Dugaan: suatu hal yang tidak mesti engkau jawab.

Note in Campus #2

Chapter 2: Merobah Hati Pikiran memang bisa di robah namun tidak dengan hati. Lalu bagaimanakah merobah hati seseorang? jawabannya satu yang tiada duanya yakni meminta dan memohon kepada yang Maha Cinta dalam setiap sujud dan hembusan nafasmu. Sebab dia yang memiliki hati setiap manusia, dia pulalah yang membolak balikkan hati tersebut.

Note in Campus #1

Chapter 1 :  Sesal Pada awalnya aku memang mengagumimu dalam setiap langkah dan ayunan tangan kecil ini. Namun seiring berjalannya waktu dan berputarnya roda kehidupan. Semua yang ku kagumi itu berubah menjadi benci atas sikapmu lantaran keputusan kejam yang meluluh lantakkan istana cinta yang ku bangun dengan deraian kesetiaan dan tetesan embun kepercayaan.

Samar-samar menjelang tumbuh mentari

Samar-samar   menjelang tumbuh mentari Pada jari yang meraba-raba tanpa melihat Diremang-remang itu merekah bersegera Tak sabar terpacu gelora nestapa gulita Bersegera menekan-nekan tombol para syair dilema Meski terhijab buta pagi cahaya mentari malu-malu Mungkin saja dia seperempat jam lagi akan datang Namun disudut pengharapan tanpa cahaya lampu Ia meraba-raba hilangnya kata-kata penasihat Ingin menoleh luka yang terindah Betapa sakitnya bila ku ingin menyayat kertas dengan tinta yang tajam siap menancap dilembar-lembar tapi disini tak ada cahaya, bagaimana akan ku toreh jadi kuputuskan saja menebar kata-kata diatas kertas tanpa senjata pena namun ku masih semberenggeh tersenyum melihat karya anak putri malu yang mekar di pagi hari menjelang mentari tumbuh dengan tunas cahaya By: Wizhafira

Tuah

Tuah Hujan tiada henti membasahi bumi Inikah yang dinamakan kota hujan? Sampai-sampai mentari tiada berwujud Berganti gumpalan awan gelap Berhias petir dan gemuruh angin Kemanakah tuahmu kota hujan? Enggankah engkau memelukku Membiarkanku menggigil di trotoar jalan Sudah habiskah sapaan lembutmu Hilangkah dentingan dawai kehangatanmu Maaf, hari ini tiada tuah untukmu

Beringin Tua

Beringin Tua Tubuhmu semakin renta dimakan zaman Pesonamu masih menampakkan rona manja Di antara panasnya kota ini Kau masih primadona Keteduhan yang membuat kau tertarik Untuk disinggahi Untuk melepas penat barang sebentar Untuk melepas lelah demurka dunia. Padang, 24 March 2017

Sawah

Sawah Oleh : Wizhafira Bersimpul kemah di gundukan gabah Menyemai bibit di tepi parit Terselip keong, lintah, pelepah pisang dan ikut berbaris acakan rerumput Mengundang kalut Si Anak Ladang Pagi petang beringsut Air surut di batang hari Matahari berlalu lalang di atas pucuk Searah tak terlihat berbalik arah Sore hari langit mengaum menyapa benih Sekilat petir lewat di ujung gabak hitam Awan menangis di wajah langit Larut menyatu dalam badai Menebar sari bunga rampai Padang, 08 April 2018

Imposible is Nothing

Imposible is nothing Apatah bisa masa muda diulang kembali Untuk menampaki indahnya gemerlap bintang Apatah mungkin bumi menurunkan hujan Sedangkan langit menjadi hamparan rerumputan Mustahil, namun bisa terjadi Jika kau Tuhan kawan. Padang, 24 March 2017